Shinta Dhanuwardoyo telah 20 tahun malang-melintang di dunia teknologi Indonesia. Mimpi terbesarnya adalah membawa Indonesia masuk ke dalam peta IT dunia.

“Sekali Anda memutuskan untuk masuk ke dunia digital atau teknologi, Anda harus berpikir diri Anda sebagai pemain global,” tegas Shinta Dhanuwardoyo, saat menjadi pembicara dalam Meet-Up StartUp Lokal V.64: Kartini in Digital Industry, yang digelar oleh komunitas Startup Lokal, bekerja sama dengan Telkom dan IBM, pada Kamis (21/4/2016) lalu, bertempat di Menara Multimedia, Telkom Indonesia.

Mengambil momen bertepatan dengan Hari Kartini, perempuan yang akrab disapa Shinta Bubu ini dianggap mewakili sosok Kartini di era modern, atas kontribusinya dalam mengembangkan dunia digital Indonesia. Terlebih, ia menjadi bukti nyata seorang perempuan yang dapat maju di dunia teknologi, yang kerap dianggap ‘dunia ‘lelaki’ oleh sebagian masyarakat.

CEO dari Bubu.com ini mengemukakan, sudah bukan saatnya untuk meributkan siapa yang lebih memiliki porsi dalam dunia digital: perempuan atau laki-laki. Keduanya memiliki hak sama, sehingga tak perlu mengkotakkan diri ke dalam batasan seperti itu.

“Seorang perempuan bisa berada di panggung yang sama dengan semua orang. Teknologi adalah bidang untuk lelaki? Saya rasa tidak,” ujar Shinta. Perempuan yang masuk ke dalam daftar 99 Most Powerful Women oleh Globe Asia ini optimistis bahwa perempuan mampu bersaing di dunia digital global, bahkan menjadi sosok yang diakui. Ia memberi contoh, Sheryl Sandberg (COO Facebook) dan Diajeng Lestari (CEO HijUp).

“Saya pernah membaca suatu hasil riset yang mengungkapkan, jika sebuah perusahaan dipimpin oleh perempuan, profit yang diterima cenderung naik hingga 15 persen. Maka dari itu, segeralah cari CEO perempuan untuk bisnismu,” ujar Shinta, seraya tertawa.

Dok. Hitsss / Ester Cahaya
Dok. Ester Cahaya / Hitsss.com

Baca halaman selanjutnya: tip bersaing di industri teknologi…