Sampul buku karya Emte (Dok. Emte)
Sampul buku karya Emte (Dok. Emte)

Kurang lebih 15 tahun lamanya Muhammad Taufiq, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Emte, telah menjalani profesi sebagai desainer grafis. Sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama, Emte sudah aktif mengirimkan karya gambarnya untuk dimuat di media. Ia bahkan masih ingat dibayar sekitar Rp 300.000 untuk 10 episode komik yang dibuatnya untuk dimuat di tabloid Fantasi.

Bagi kamu yang sudah membaca buku puisi Melihat Api Bekerja (Gramedia, 2015) yang ditulis M. Aan Mansyur, pasti tahu sampul dan ilustrasinya dibuat oleh Emte. Kolaborasi Emte-Aan ini dipamerkan di Edwin’s Gallery, Kemang, pada April 2015 lalu.

Trik bertahan sebagai desainer grafis

Emte (Dok. Hitsss)
Emte (Dok. Hitsss)

Sejak tahun 2002, Emte mulai sering membuat desain sampul buku. Hingga kini jumlah sampul buku karyanya tak lagi terhitung, sebab sudah ratusan yang ia kerjakan. Sebelumnya Emte banyak membuat ilustrasi untuk majalah-majalah perempuan. Karena itu desain yang ia buat tidak jauh dari gambar-gambar seputar perempuan dan dunianya. Selain sampil buku, Emte juga mendesain keperluan komersial seperti untuk iklan.

Lulusan IKJ tahun 2004 ini mengaku tidak terpaku pada satu jenis gaya menggambar saja. Ia sering berganti-ganti gaya, mulai dari membuat gambar yang fashionable, cute, atau pop art, oleh karena itulah yang membuat karyanya selalu tampak segar. Baginya, salah satu cara untuk bisa bertahan sebagai desainer grafis lepas ialah penting untuk bisa berganti-ganti gaya, agar tidak monoton, sehingga jejaring yang diperoleh juga bisa lebih banyak.

“Dulu kalau mau gambar harus sembunyi-sembunyi. Orangtua sih mendukung, cuma waktu itu harus lebih mementingkan sekolah. Barulah pas lulus SMA, dibebaskan untuk memilih apa yang saya suka. Saya sudah berpikir, kalau suatu hari nanti saya ingin pekerjaan saya adalah menggambar. Jadi memilih kuliah yang memang bisa menyalurkan kegemaran saya, dan jelas kerjaan ke depannya. Jadilah saya pilih desain grafis,” ujar Emte kepada Hitsss dalam satu sesi wawancara khusus.

Buat moodboard sebagai arahan visual

Karya ilustrasi Emte (Dok. Emte)
Karya ilustrasi Emte (Dok. Emte)

Sebagai pemancing untuk membuat karya yang kreatif, Emte senang mengumpulkan gambar-gambar, pernak-pernik, mainan dan produk interior yang unik. “Mungkin terkadang buat orang-orang lain, benda itu tidak penting atau tidak berguna. Tapi itulah seni, mementingkan hal-hal yang dianggap tidak penting oleh orang lain,” ujar Emte sembari tertawa.

Benda-benda tersebut baginya dapat merangsang ide. Menurutnya, salah satu trik untuk kreatif ialah bisa menggambungkan gambar yang satu dengan gambar yang lain menjadi gambar yang baru. “Karena biasanya semua desainer punya mood board. Isinya bisa tempelan gambar, coretan dan sebagainya yang bisa jadi referensi untuk menggambar dan untuk mencari komposisi warna yang pas. Bentuknya tidak beda jauh dengan scrapbook atau klipingan. Mood board itu membantu arahan visual, jadi sewaktu menggambar seperti ada panduannya, sudah tahu arahnya mau bagaimana, berfungsi untuk menstimuluasi ide,” jelas Emte.

Ia juga mengumpulkan gambar-gambar ruang kerja desainer, ilustrator dan seniman di berbagai dunia sebagai inspirasi. Karena ia percaya yang dapat membantu seseorang untuk berpikir dan menciptakan sesuatu yang kreatif sangat terbantu dari lingkungan di sekitar. Jadi penting untuk membuat ruang kerja yang senyaman  mungkin.

Pameran karya untuk menyeimbangkan diri

Karya ilustrasi Emte (Dok. Emte)
Karya ilustrasi Emte (Dok. Emte)

Meski terbiasa mengerjakan gambar dan desain pesanan klien. Emte tetap ingin memiliki karya yang tanpa intervensi dari pihak manapun untuk menyeimbangkan dirinya. Pada tahun 2014, ia mengadakan pameran tunggal bertema Soft Violence di Platform3, Bandung. Ia juga sering ikut serta dalam pameran kelompok yang berlangsung di berbagai tempat, di antaranya seperti Galeri Nasional, Taman Ismail Marzuki, Ruang Rupa, JIEXPO Kemayoran, hingga JCC.

Tahun ini, rencananya Emte akan mengadakan pameran tunggal yang berlokasi di Jakarta. “Buat pameran itu pencapaian dan prestasi bagi saya. Berkarya di dunia kreatif dan tetap punya idealisme yang perlu disalurkan itu penting. Kalau cuma mengerjakan yang pesanan, jadinya merasa ‘tumpul’. Saya tetap butuh berkarya sebagai medium saya untuk menyampaikan emosi dan ‘suara’ sendiri,” jelas Emte.

Menjadi desainer grafis independen, tentu dibutuhkan upaya perjuangan yang lebih, dibandingkan mereka yang bekerja sebagai karyawan. Menurut Emte, penting untuk bisa mengatur penghasilan dan pegeluaran, dikarenakan pendapatan tidak bergantung pada perusahaan melainkan pada usaha diri sendiri.

“Kalau dulu pernah meerasa masa sulit, itu hal wajar. Setiap pilihan pasti punya konsekuensi. Saya jalani semua ini serba mengalir aja. Hasrat menggambar saya besar. Kalau kerja di biro iklan, hasrat menggambar harus kalah dengan mendesain. Saya sering instropeksi. Saya bangun jejaring dari nol, dan selalu berpikir positif, selalu akan ada jalan keluar. Jatuh bangun itu biasa. Sebagai pekerja lepas, tidak bisa bergantung sama pemberi kerjaan, namun kita harus aktif untuk menciptakan sesuatu,” ujar pria  kelahiran 15 Maret 1979 ini.

Dari usahanya untuk terus mencipta peluang dan pekerjaan sebagai desainer grafis independen ini, terbukti Emte bisa memiliki rumah sendiri di kawasan Pondok Labu, Jakarta. Karena itu, menurut dia, profesi sebagai desainer grafis masih menjadi profesi yang menjanjikan. Sebagai penutup obrolan, Emte berujar, namun perlu diingat bahwa bukan hasil karyanya saja yang harus kreatif, tapi lebih penting dari itu, juga harus memiliki cara berpikir yang kreatif. ***

 

 

Comments

  1. Klo gak salah Waktu SD sempat bilang ‘paling susah gambar orang turun dari mobil’

  2. Waktu SD bikin komik dijualin keteman2nya.. gak difotokopi … tapi gambar ulang.. pake pulpen lagi pula.. dia emang jenius dibidangnya