Iseng yang berbuah hasil! Lightcraft terbang ke Toronto, Kanada, dan tampil di salah satu panggung festival musik setempat.

Kian hari kian banyak musisi lokal Indonesia yang merentangkan sayap bermusiknya ke mancanegara. Lightcraft, band asal Jakarta, belum lama berlalu baru saja pulang dari Kanada setelah tampil di Canadian Musik Week 2015 yang berlangsung pada 1-10 Mei 2015 lalu. Band yang terdiri dari, Imam (vokal, gitar), Enrico (piano, keyboard, backing vocal), Fari (gitar, backing vocal), Kiki (bass, backing vocal), dan Yovie (drum) kerap membawakan musik-musik beraliran indie-rock atau pop-experimental di setiap lagu-lagunya. Kepada Hitsss, Lightcraft bercerita bagaimana kisah perjalanan mereka, serta jati diri bermusik mereka. Let’s check them out!

Mengenai Lightcraft dan musik Lightcraft

Hitsss (H): Apa alasan kalian memilih Lightcraft sebagai nama band? Apa ada makna khusus?

Imam (I): Pada awalnya kami bernama Parallel Lines. Lalu kami tukar jadi Tenterhooks. Akan tetapi kedua nama tersebut ternyata cukup merepotkan untuk disebut oleh MC saat kami manggung. Jadi kami membuat sebuah daftar nama yang menarik untuk dijadikan nama band, di mana salah satunya adalah Lightcraft. Setelah dipilih, akhirnya kami memutuskan memakai Lightcraft. Makna khusus nama tersebut baru kami dapat lama setelah kami memutuskan untuk bergerak sebagai Lightcraft. Kalau diterjemahkan, ‘light’ artinya ‘ringan’, tetapi bisa juga diartikan ‘cahaya’, sedangkan ‘craft’ adalah ‘karya seni’, maka cocok dengan apa yang kami lakukan, yakni menciptakan lagu-lagu (karya seni) yang dapat memberikan cahaya pengertian dan kebahagiaan kepada para pendengar. Sewaktu kami masih belajar di Kuala Lumpur, kami tinggal di kota satelit bernama Bandar Sunway, dan kalau kami ingin ke pusat kota, kami selalu melewati sebuah jalan yang disana terdapat sebuah toko lampu bernama Lightcraft. Kami adopsilah akhirnya nama tersebut, tapi dengan “l” kecil untuk membedakan.

Dok. Lightcraft

H: Bagaimana awal mula terbentuknya band ini?

Enrico (E): Cukup panjang kalau yang ini. Intinya, dulu saya bermain musik dengan drummer kami yang pertama semasa belajar di SMA di Kuala Lumpur, Patrick. Setelah lulus, kebetulan kami kuliah di universitas yang sama – Sunway University College – dan tinggal di apartemen yang sama. Di sela kejenuhan, kami mencetuskan keinginan untuk kembali bermain musik. Lalu kami rekrut gitaris Fari, yang kebetulan juga teman satu apartemen, dan bassist Indra. Tak lama setelah itu, Enrico, kibordis/pianis, pun bergabung. Maka terbentuklah Lightcraft versi awal. Ketika Indra lulus kuliah, ia terpaksa hengkang pulang ke Jakarta, lalu kami gantikan dengan teman kami orang Malaysia yang bernama Efry Arwis. Perlahan-lahan satu per satu lulus kuliah. Fari pulang ke Jakarta, Patrick dan Enrico pindah ke Singapura untuk bekerja. Saya tetap melanjutkan Lightcraft dengan kawan-kawan kami yang orang lokal. Setelah saya menyelesaikan S2, saya sempat bekerja di Kuala Lumpur selama setahun lebih. Tetap lah saya jalankan Lightcraft sampai pada akhirnya saya memutuskan untuk pulang kampung. Nah pada saat itu lah saya, Enrico, dan Fari bergabung kembali, lalu kami merekrut Rizky, bassist dan kawan lama kami di Kuala Lumpur, dan Yovie sebagai drummer baru.

H: Bisa tolong beri kami tiga kata yang mendeskripsikan musik kalian?

I: Melancholic, anthemic, melodic.

H: Siapa musisi yang paling berpengaruh terhadap musik yang kalian buat?

Fari (F): Tiap anggota Lightcraft mungkin berbeda, tapi secara keseluruhan, saya rasa nama-nama berikut cukup berpengaruh terhadap cara kami bermain musik: Coldplay, Snow Patrol, Athlete, Doves, Feeder (era Pushing The Senses), Elbow, The Boxer Rebellion, In-Flight Safety, Jeff Buckley, Keane, dan masih banyak lagi!

H: Setelah Colours of Joy, apa yang kalian rencanakan dalam waktu dekat? Bagaimana dengan album baru?

I: Sebenarnya kami juga baru merilis sebuah mini-kompilasi dalam bentuk kaset berjudul Love Songs & Lullabies, di mana di dalamnya berisi lagu-lagu album pertama Losing Northern Lights, album kedua Colours Of Joy, dan satu B-side yaitu sebuah lagu berbahasa Indonesia yang kami beri judul Lupa. Nah, setelah ini, mungkin setelah bulan Ramadan, atau bisa juga sewaktu bulan Ramadan berjalan, kami akan memulai rekaman materi baru untuk album ketiga kami. Sekarang saja kami sudah ada 10 lagu yang kami rasa layak direkam, dan di samping itu, masih ada juga beberapa lagu lagi yang sudah saya ciptakan dan siap dibawa ke studio untuk diaransemen. Mungkin tahun depan baru akan kami rilis. Mungkin juga 2017. Kita lihat saja nanti, hehehe.

H: Apa yang ingin kalian ceritakan lewat lagu-lagu kalian?

Kiki (K): Kalau didengar sekilas, mungkin orang akan bilang kalau lagu-lagu kami semuanya mengisahkan tentang cinta, dan itu benar. Akan tetapi lagu-lagu kami sebenarnya cukup terbuka untuk diinterpretasi ulang oleh para pendengar. Saya terinspirasi banyak dari kehidupan pribadi saya, juga dari keadaan di dunia secara keseluruhan yang dilanda berbagai macam masalah yang tak ada habisnya.

H: Apa pengalaman tergila di atas panggung yang pernah kalian rasakan selama ini?

Yovie (Y) : Hmm. Apa ya. Terus terang, kami anak baik-baik sih, jadi jarang ‘gila’nya! Hahaha. Dulu gitaris kami, Fari, pernah saking asyiknya dia bermain gitar, dia berseluncur di lantai panggung sampai celananya robek. Tetapi itu dulu sekali, zaman kami masih kuliah. Mungkin yang paling ‘gila’ bagi kami akhir-akhir ini adalah bisa berada di atas panggung memainkan musik kami di tempat-tempat seperti Chennai, India, di bulan Januari kemarin, juga di Toronto, Kanada. Tidak pernah terpikirkan kalau kami bisa tampil di kedua tempat tersebut. Semoga ke depannya kami bisa bermain di tempat-tempat yang lebih ‘gila’ lagi!

Mengenai penampilan Lightcraft di Canadian Music Week 2015 (CMW)

H: Bagaimana awal mulanya Lightcraft bisa diajak main di Canadian Musik Week 2015 kemarin?

I: Sebenarnya semuanya berawal dari keisengan kami yang mendaftarkan diri ke festival-festival kelas internasional di berbagai negara di seluruh dunia. Ternyata dari semua, CMW 2015 yang merespon dengan baik. Akhirnya kami diundang untuk tampil. Kami cukup bangga karena ternyata musik kami dapat diapresiasi oleh orang dari luar negeri, apa lagi di Kanada oleh pihak festival yang cukup besar.

H: Apa saja persiapan kalian untuk manggung di sana?

E: Terus terang, persiapan kami lebih ke bagian keuangan dan mental, karena kami mengerti kalau untuk terbang ke Kanada dan tinggal di sana untuk lebih dari seminggu itu akan makan biaya yang cukup banyak. Lalu dari segi mental, kami tahu kalau kami akan tampil di depan penonton yang sifatnya internasional di festival yang berkelas internasional, tentunya kami sangat gugup menghadapinya! Tapi beruntung, semua berjalan dengan lancar, jadi kami sangat bersyukur akan itu.

H: Berapa lagu yang kalian bawakan? Adakah penampilan khusus yang kalian berikan?

F: Kami hanya diberikan waktu 40 menit untuk tampil. Alhasil kami membawakan 6 lagu, yaitu A Perfect Kaleidoscope (Intro), Starlit Eyes, Holding On, Here Comes The Sun, The Art Of Acceptance, dan Living In Words and Letters. Karena kami tampil di Toronto, kami membawakan potongan lagu dari salah satu artis paling terkemuka yang berasal dari Toronto, yaitu Feist, dengan lagunya yang Let It Die pada akhir dari lagu kami The Art Of Acceptance. Respon dari penonton cukup baik.

H: Bagaimana reaksi penonton pada saat menyaksikan penampilan kalian?

K: Jauh lebih baik dari perkiraan kami. Mereka sangat antusias menyambut setiap lagu, mereka sangat suportif. Setelah kami selesai, banyak yang menghampiri kami untuk menyatakan kekaguman mereka terhadap band yang berasal dari Indonesia ini!

Dok. Lightcraft

H: Lightcraft membawa serta CD dan merchandise kalian untuk dijual di sana, bagaimana penjualannya?

Y: Penjualan cukup baik. Cukup banyak yang datang ke meja penjualan merchandise kami untuk membeli CD, kaset dan t-shirt kami, jadi kami cukup puas juga dari sisi itu.

H: Apakah kalian tahu bahwa /Rif juga manggung di CMW 2015? Bagaimana reaksi kalian ketika mengetahui ada band lain yang manggung juga di acara ini?

I: Terus terang kami baru tahu ada /Rif sewaktu kami sedang registrasi di Sheraton Centre Toronto Hotel, ketika petugas CMW 2015 yang membantu kami dalam perihal tersebut menyebutkan kalau ada satu band Indonesia lagi yang tampil di CMW 2015. Karena dalam buku panduan CMW 2015 pun nama mereka tidak ada. Barulah sewaktu kami lihat di official application CMW 2015 ternyata ada nama /Rif. Yang lucunya adalah sewaktu petugas tersebut mengatakan ada satu band Indonesia lagi, “There’s another Indonesian band playing at the Hard Rock Café, Slash /Rif?”, hahaha.

H: Kegiatan apa yang kalian lakukan selain manggung di CMW2015?

E: Karena CMW 2015 terdiri dari berbagai acara yang berjalan secara serentak di berbagai venue di Toronto, tentunya kami pergi menonton beberapa gigs. Kami menyaksikan East India Youth, Glory Glory, In-Flight Safety, dan kawan-kawan kami dari Singapura, Pleasantry. Selain itu, kami juga berkesempatan untuk bertemu dengan para mahasiswa dan pekerja Indonesia di Toronto yang tergabung dalam Permika, dimana kami menyajikan sebuah penampilan akustik untuk mereka di sebuah bar yang bernama Wylie’s. Seru banget! Lalu pastinya kami juga jalan-jalan mengitari kota Toronto, dan juga kami berkesempatan pergi ke Niagara Falls.

H: Hal apa yang paling tidak terlupakan saat perjalanan ke Kanada lalu? Tempat favorit? Makanan favorit?

I: Mungkin lebih ke pengalamannya. Sebagai satu band di negara asing selama lebih dari seminggu, itu yang paling tidak terlupakan. Suka dan duka yang kami rasakan bersama selama perjalanan dan sewaktu kami di Toronto. Itu bagian yang sangat berkesan untuk kami. Lalu tentu juga bertemu dan menjalin persahabatan dengan band-band dari mancanegara, seperti Wyland dari New Jersey, band-band setempat seperti Field Study dan Konig. Kami juga bertemu dengan idola kami, In-Flight Safety, yang berasal dari Halifax, Nova Scotia, Kanada. Untuk tempat favorit, mungkin High Park, sebuah taman yang luas, penuh dengan kehijauan dan kehidupan. Semasa kami di sana, kebetulan juga sedang musim cherry blossom, jadi serasa seperti di Jepang. Lalu kami sempat terjebak macet sekitar 2 jam di High Park sewaktu sedang mencari parkir. Sudah seperti di Jakarta rasanya! Hahaha. Lalu tempat-tempat lain yang sangat berkesan di kami antara lain Sonic Boom Records (sebuah toko CD, vinyl, dan kaset), Cosmo Music (toko musik terbesar di Amerika Utara, menurut salah satu pegawainya), dan Underground Garage, lokasi tempat kami tampil. Untuk makanan favorit, kalau Enrico pasti akan menyebut poutine. Kalau saya secara pribadi, karena saya sempat tinggal di Amerika Serikat sewaktu saya masih kecil, saya sangat bahagia sekali dapat merasakan lagi burrito dan taco dari Taco Bell!

H: Indonesia pastinya ikut bangga karena memiliki musisi berbakat dalam negeri yang mengembangkan sayapnya hingga jauh ke negeri orang, setelah ini apakah sudah ada rencana untuk manggung di luar lagi?

K: Semoga saja Indonesia ada merasakan sedikit kebanggaan dari petualangan kami ke negeri orang! Hahaha. Setelah CMW 2015, dari tanggal 20-23 Mei, kami bertandang ke Singapura karena kami diundang untuk main di Music Matters Live 2015, sebuah festival musik bertaraf internasional yang melibatkan berbagai artis dan band dari seluruh dunia. Kami dijadwalkan untuk tampil 4 kali dalam 4 hari, jadi kelihatannya akan menjadi sebuah pengalaman baru dan seru!

H: Apa tipsnya bagi sesama musisi indie, yang juga ingin manggung di negeri orang seperti kalian?

I: Terus mencoba dan rajin cari info untuk mencari tahu tentang festival-festival di luar negeri. Kualitas musisi-musisi di Indonesia yang sangat bagus. Saya rasa pasti cukup mudah untuk dapat manggung di acara-acara tersebut. Kami yang pas-pasan aja bisa, tentu yang lain pasti juga bisa, hahaha. (KA)