Mengenyam pendidikan di luar negeri, tidak serta-merta membuat tiga sekawan Shinta Nurfauzia, Johannes Ardiant, dan Ronald Wijaya lupa kampung halaman. Usai menuntaskan kuliahnya di negeri Paman Sam, ketiganya terpanggil untuk pulang ke Indonesia dan membangun sebuah bisnis startup berbasis kesehatan bernama Konsula.

Awalnya, ketiganya kerap berdiskusi topik tentang kesehatan yang terjadi di negeri kelahiran mereka, dan mencari jalan keluarnya. Berdasarkan riset ketiganya, terdapat lebih dari 160 ribu dokter di Indonesia dan lebih dari 2000 dokter dokter baru di setiap tahunnya.

“Tidak optimalnya pelayanan kesehatan di Indonesia dapat terlihat kala masyarakat tidak dapat bertemu dengan dokter yang sesuai dengannya. Ditambah lagi biaya yang tinggi yang harus dikeluarkan pengelola untuk melakukan manajemen fasilitas kesehatan. Inilah yang menjadi penyebab terbatasnya akses kesehatan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah,” papar Shinta, Co-Founder Konsula, kepada Hitsss.

Konsula merupakan sebuah situs dan aplikasi mobile yang menghubungkan dokter dan pasien. Melalui direktori online, pasien dapat mencari dokter terbaik yang sesuai dengan kondisi mereka, serta dapat melakukan pemesanan online dengan dokter yang akan dituju. Selain itu, Konsula juga memiliki sebuah platform online yang dapat digunakan sebagai fasilitas kesehatan, seperti rumah sakit, klinik, dan puskesmas, untuk mengelola agenda dokter dengan sistematis dan harga yang terjangkau.

Dok. Konsula
Dok. Konsula

Teknologi keunggulan Konsula

Startup yang baru saja mendapat pendanaan awal dari East Ventures (undisclosed) ini memiliki dua keunggulan dari sisi teknologi yang digunakan. Pertama, Direktori Pintar Konsula, dirancang untuk menghubungkan para calon pasien dengan dokter yang paling cocok dengan mereka. Hal ini didukung dengan adanya saringan untuk harga, lokasi, spesialisasi, jadwal, dan lain sebagainya.

“Direktori ini sebagai situs dan app layanan masyarakat yang juga memungkinkan pengguna untuk membuat janji konsultasi dan memberikan ulasan dengan cara mudah,” kata Shinta. Situs Direktori Pintar Konsula akan bisa segera digunakan pada akhir Oktober 2015 ini.

Kedua, Konsula Connect, piranti lunak manajemen praktek kedokteran online yang memungkinkan dokter dan fasilitas kesehatan, untuk mengatur jadwal perjanjian dan mendigitalisasi data pasien. Keduanya dikembangkan khusus bagi dunia kesehatan Indonesia. Terutama untuk mereka yang membutuhkan jasa dokter. Meskipun dapat digunakan bagi semua kalangan, menurut penelusuran para pendiri, Konsula efektif digunakan untuk kalangan ekonomi menengah ke bawah.

Fungsi dan cara kerja Konsula. (Dok. Konsula)
Fungsi dan cara kerja Konsula. (Dok. Konsula)

Edukasi dan promosi dengan jalur online dan offline

Sadar bahwa platform dan teknlogi yang digunakan Konsula belum ‘akrab’ dengan keseharian prakter para dokter. Shinta mengungkapkan, bahwa Konsula tidak hanya dipasarkan melalui pemasaran online saja.

“Banyak dokter di Indonesia merasa kesulitan dan belum mau memindahkan manajemen praktik dokter ke ranah digital. Oleh karena itu, kami akan mengerahkan tim penjualan yang khusus datang ke tempat praktek dokter individu, klinik, puskesmas, dan rumah sakit untuk menjaring para dokter serta fasilitas kesehatan agar terdaftar di Konsula,” jelas Shinta mengenai strategi pemasaran Konsula.

Masyarakat pun dapat mendaftarkan dokter favorit mereka melalui kotak request kepada Konsula. Dengan melihat keinginan para pasien untuk menggunakan Konsula inilah, yang juga akan memicu para dokter untuk menggunakan Konsula. “Selain kami yang akan memasarkan kepada para dokter untuk menggunakan platform Konsula, para dokter juga akan melihat bahwa pasien mereka dapat semakin terbantu dalam berhubungan dengan mereka, bila menggunakan Konsula,” tambah Shinta.

Direktori Pintar Konsula dapat digunakan gratis bagi siapapun. Sementara Konsula Connect dapat digunakan para dokter dan fasilitas kesehatan dengan berlangganan (subscription), yang menjadi model bisnis Konsula. Sejumlah lebih dari 500 dokter telah mendaftarkan diri mereka untuk menggunakan Konsula.

“Kami yakin bahwa akan banyak orang yang menggunakan platform Konsula ada saat rilis akhir bulan Oktober ini. Sebab saat melakukan survei, hampir 100 persen menyatakan bersedia menggunakan Konsula,” ungkap Shinta meyakini respon pasar. “Kami berharap, dengan adanya Konsula di tengah masyarakat, akan mewujudkan misi kami untuk membuka akses layanan kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat Indonesia akan semakin terbuka lebar.” (KA)