Indosat IDByte 2015 yang telah selesai diselenggarakan pekan lalu (30 September – 2 Oktober 2015), mengumumkan Kakatu sebagai pemenang IDByte Startup Hunt saat malam penghargaan Bubu Awards V.09. Sebelumnya, grand final IDByte Startup Hunt memilih delapan startup untuk melakukan pitching di hadapan para juri, yakni Willson Cuaca (Managing Partner East Ventures), Shinta Dhanuwardoyo (CEO Bubu.com), dan Michael Steven (CEO Kresna Creativentures).

Delapan finalis dipilih dari empat kota besar, yaitu Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan Bali. Makanluar.com, Sasbuzz, Veryfund, Kurawal, Fitinline.com, Kakatu, Pincam.co.id, dan COD Nusantara, memperebutkan hadiah berwisata selama satu minggu ke Sillicon Valley. “Pemenang akan membuka relasi serta bergabung dalam organisasi non-profit bertajuk SVA Technology Alliance (SVATA),” ungkap Shinta.

Malam penghargaan Bubu Awards V.09 yang menutup serangkaian acara IDByte Conference 2015 di Ballroom The Ritz-Carlton, Pacific Place, menjadi momen yang mendebarkan kala nama Kakatu disebutkan sebagai pemenang IDByte Startup Hunt di hadapan para hadirin. Muhammad Nur Awaludin, selaku CEO Kakatu, pun naik ke atas panggung menerima penghargaan tersebut.

Ingin bantu para keluarga untuk memiliki hubungan kuat

Seusai acara, Hitsss berbincang-bincang dengan lelaki yang akrab disapa Mumu tersebut, mengenai Kakatu dan perencanaan pengembangan aplikasi parental control-nya. Kakatu sendiri dibentuk karena pengalaman pribadi yang dialami rekan pendirinya, yakni Robi, kala melihat keponakannya yang tidak bisa lepas dari gadget-nya pada bulan April 2014 lalu.

Ditambah dengan ditinggalnya Mumu oleh sang Ayah. “Saat ayah saya meninggal, di situlah saya baru merasa bahwa kenangan kami lenyap dikarenakan saya terlalu asyik bermain gadget dan game online,” ungkap Mumu mengenang masa berkabungnya.

Fitur-fitur Kakatu. (Dok. Kakatu)
Fitur-fitur Kakatu. (Dok. Kakatu)

Kakatu adalah sebuah aplikasi mobile yang dapat mengurangi dan menyeleksi penggunaan aplikasi pada ponsel orang tua yang dipakai sang anak ataupun ponsel si anak itu sendiri. Di usia yang masih muda, Kakatu telah diikutsertakankan dalam berbagai kompetisi, seperti Indonesia Next Apps 2014 setelah masuk dalam Indigo Incubator dan Seedstars World Jakarta 2015. Meski belum menjadi pemenang, Kakatu melakukan banyak pengembangan dan perbaikan, baik dari sisi aplikasi mobile, tim, dan model bisnis yang diterapkan.

“Selang tiga bulan setelah kami ikut kompetisi INA 2014, kami sudah memiliki traffic yang bagus. Di satu bulan pertama Kakatu, kami telah meraup sejumlah 11 ribu pengguna. Samsung menghubungi kami untuk pre-install Kakatu di salah satu produk mereka, yaitu Samsung Galaxy Tab 3V,” jelas Mumu mengenai kerja sama Kakatu dengan Samsung, yang masih berlangsung hingga saat ini.

Ditujukan kepada para orang tua yang memiliki anak berumur 3-12 tahun, Kakatu diharapkan mampu bersaing dengan aplikasi kompetitor yang sudah beredar di Play Store dan pasar luar negeri. Mumu mengungkapkan, ia berharap Kakatu mampu diterima di pasar Indonesia, serta mampu memenuhi kebutuhan mereka dalam memberikan perlindungan anak-anak terhadap kecanduan gadget, atau bahkan pornografi yang semakin mudah diakses.

Fitur lengkap gabungan antara proteksi dan edukasi

Aplikasi yang kini telah memiliki jumlah pengguna hampir 100 ribu ini, memiliki konten yang sangat lengkap, serta dilengkapi dengan modul komunikasi orang tua dan anak. Penggunaan Kakatu pun sangat mudah, orang tua hanya perlu memilih aplikasi mana yang boleh digunakan sang anak, untuk ditayangkan pada modul anak Kakatu saat sedang menggunakan gadget para orang tua.

“Dalam memilih aplikasi, Kakatu mengategorikan aplikasi-aplikasi yang terpasang di gadget ke dalam tiga kategori, yaitu direkomendasikan, belum direkomendasikan, dan tidak direkomendasikan, sehingga orang tua juga dapat teredukasi,” jelas Mumu. Aplikasi mobile yang memiliki rating 4.5 di Play Store ini, juga dapat mendeteksi lokasi sang anak melalui platform di situs Kakatu dengan memanfaatkan GPS yang diaktifkan di gadget sang anak.

Kakatu juga bisa sekaligus membatasi anak-anak yang menggunakan gadget dengan mengatur waktu penggunaannya. “Orang tua dapat memasang alarm pengingat. Saat waktunya habis, maka otomatis gadget akan terkunci. Hanya orang tua yang dapat membukanya. Khawatir anak-anak akan ‘ngambek’ akan hal itu, kami memasang video edukasi yang dapat ditonton sang anak, dengan harapan mampu mengalihkan amarahnya,” ungkap Mumu mengenai fitur unggulan Kakatu.

Terobosan lainnya yang akan dirilis Kakatu adalah Kakatu Browser. Sebuah aplikasi penelusuran yang dikhususkan bagi anak-anak. Di dalam Kakatu Browser, terdapat data-data yang telah diseleksi untuk dapat atau tidak dapat ditelusuri anak-anak pengguna Kakatu Browser. Perlu diketahui bahwa tampilan launcher di ponsel saat menggunakan modul anak Kakatu, tidak berbeda dengan tampilan default ponsel tersebut, sehingga sang anak tidak menyadari bahwa sedang diproteksi.

Sedang dalam masa fund-raising, Mumu sadar bahwa untuk memasarkan Kakatu ke dalam target yang tepat, ia harus melalui banyak channel pemasaran. Yayasan, komunitas, sekolah, dan pemerintah adalah beberapa jalur yang menjadi perhatian.

“Kami tidak mungkin memasarkan dan mengedukasi Kakatu satu per satu ke setiap orang tua. Oleh karena itu, kami akan masuk ke pintu-pintu besar yang dapat membuka jalan kami menuju market yang besar,” tambahnya lagi. Mumu juga memanfaatkan rekanan yang berprofesi sebagai psikolog yang sering memberikan penyuluhan di hadapan orang tua, sebuah jalur pemasaran lainnya yang efektif dan efisien.

Ditanya mengenai model bisnis, Kakatu akan menerapkan sistem berlangganan bagi penggunanya yang ingin mendapatkan pelayanan premium. “Kami telah melewati masa free user dan sedang dalam masa trial user untuk mencoba fitur-fitur yang ada di Kakatu. Setelah kami berhasil meningkatkan traffic, kami akan mulai memberlakukan sistem berlangganan. Tidak membutuhkan uang atau kartu kredit, melainkan hanya dengan klik share ke berbagai media sosial. Nantinya kami juga akan menerapkan potong pulsa pada model bisnis tersebut, tidak mahal hanya sekitar 5-10 ribu rupiah saja per bulannya,” jelas Mumu.

Bersiap-siap akan berangkat ke Sillicon Valley, Mumu berharap dapat mempelajari strategi mengembangkan bisnis parental control dari para ahlinya. “Di Amerika Serikat, parental control memiliki total market yang sangat besar. Produk-produknya pun terpercaya dan sudah memiliki revenue jutaan dolar per bulannya,” papar Mumu, yang juga berharap bahwa di Indonesia, para orang tua akan membutuhkan aplikasi Kakatu untuk memberikan proteksi dan edukasi mengenai gadget kepada anak-anak mereka. (KA)