Berdiri sejak bulan Juli 2013, Geekhunter, sebuat startup penyedia programmer atau talenta IT bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi atau IT, memiliki sebanyak lebih dari 18 ribu database programmer atau talenta IT yang terdaftar di Geekhunter.

Ken Ratri Iswari (Founder & CEO) dan Yunita Anggraeni (Co-Founder & COO) mengemukakan, bahwa database tersebut dikelola dengan menggunakan Applicant Tracking System, sebuah sistem yang dapat mengolah dan menyimpan berbagai data secara berkesinambungan.

Sepanjang kariernya, Geekhunter telah melayani klien-klien, baik perusahaan dalam negeri maupun perusahaan yang berada di Asia Tenggara, yang memiliki kantor di Indonesia. “Saat ini di daftar kami terdapat 30 perusahaan yang sedang proses ataupun yang baru saja selesai melakukan rekrutmen. Total perusahaan yang telah mejadi klien kami ialah sebanyak 34 perusahaan,” papar Yunita Anggraeni yang akrab disapa Anggra kepada Hitsss.

Anggra menambahkan bahwa sempat terjadi bad hiring saat perekrutan telah berlangsung. “Tidak banyak, hanya berkisar dua persen. Permasalahan terletak di ketidakcocokan kandidat dengan kultur perusahaan atau kultur startup yang bisa jadi baru mereka masuki,” jelasnya lagi.

Kepada Hitsss, kedua pendiri Geekhunter ini pun mengungkapkan tantangan yang mereka hadapi dalam mengembangkan atau memasarkan Geekhunter.

  • Usia muda. Kami nampak sekali masih sangat muda. Oleh karena itu, kami memerlukan energi ekstra dalam meyakinkan para klien yang meragukan kredibilitas Geekhunter.
  • Mencari kualitas terbaik. Saat klien yang menggunakan jasa Geekhunter tidak berhasil merekrut sendiri talenta IT yang mereka inginkan, padahal mereka juga telah memasang iklan, ada pula yang telah menggunakan LinkedIn. Sehingga ketika mereka menggunakan jasa Geekhunter, kriteria talenta IT yang mereka cari ialah yang memiliki kualitas tinggi.
  • Talenta tidak komunikatif. Berhadapan dengan geek yang memiliki tingkat intelijensia atau IQ yang tinggi bukanlah hal yang mudah. Terkadang kami menemukan talenta IT yang tidak pandai berkomunikasi dengan baik saat kami ajak bincang-bicang.
  • Kompetisi sesama headhunter. Di Indonesia banyak sekali agen rekrutmen atau headhunter. Walaupun mereka tidak berfokus pada talenta IT, namun kami banyak menemukan bahwa klien kami menggunakan lebih dari satu agen rekrutmen.
  • Memperebutkan talenta terbaik. Semua klien menginginkan talenta dari universitas tertentu dan semuanya mencari dari talent pool yang sama.

Menghadapi segala tantangan yang menghadang, Ken dan Anggra berusaha untuk lebih dapat beradaptasi menghadapi berbagai tipe kepribadian orang-orang yang berbeda-beda.

“Menjalin hubungan yang baik dengan banyak orang dan komunitas yang ada di dunia IT, hingga turut serta membantu berbagai macam kegiatan bertemakan IT, baik di kalangan sekolah menengah maupun perguruan tinggi. Hal-hal tersebut dapat semakin mematangkan kredibilitas Geekhunter sebagai perusahaan andalan perusahaan dalam mencari talenta di dunia IT,” tutup Ken, yang baru saja dinobatkan sebagai salah satu pemenang dari The Wempy Dyocta Kyoto Award. (KA)