PENGANTAR: Belum lama berlalu, tepatnya 30-31 Juli 2016, digelar ajang EdTech Asia Summit 2016, sebuah konferensi yang mempertemukan stakeholder serta pelaku dan wirausahawan bidang education technology (edtech) tingkat Asia, di Bangkok, Thailand. Turut hadir sebagai salah satu wakil Indonesia dalam acara tersebut adalah Herry Fahrur Rizal, salah satu penggagas EdTech Indo, komunitas startup pendidikan pertama di Indonesia. Lebih jauh tentang kesannya berpartisipasi di acara EdTech Asia Summit 2016, apa yang dipresentasikan, serta bagaimana pandangannya tentang dunia edtech di Indonesia dan Asia, Herry berkisah pada Hitsss melalui cerita berikut ini.

Ketika saya mendapat undangan dari seorang teman untuk berpartisipasi di acara diskusi panel di EdTech Asia Summit 2016, saya menyambut baik. Ini ajang regional tingkat Asia yang mempertemukan para pelaku industri startup edtech se-Asia.

Saya merupakan satu dari 60 pembicara dari 20 negara di Asia, yang berbagi wawasan mengenai bagaimana pasar edtech di Indonesia. Dalam kapasitas saya sebagai salah satu penggagas komunitas EdTech Indo, pada acara tersebut saya turut berbagi tentang topik “Understanding ASEAN Education Market”.

Beda peran, sama status

Malam sebelum jalannya acara, dari sekian penghuni Lub D Siam Bangkok yang asyik menikmati liburannya, tampaknya hanya saya yang masih terus bejibaku dengan persiapan materi konferensi.

Terhampar di hadapan saya adalah Laporan Akuntabilitas Kinerja Program (LAKIP) Kemendikbud 2015, yang saat itu masih berada dalam pimpinan Anies Baswedan.

Sekalipun topik diskusi panelnya adalah “Understanding ASEAN Education Market”, namun saya merasa perlu membaca LAKIP terbaru ini, demi memahami pasar edtech di Indonesia dalam perspektif pemerintah.

Apalagi saat seorang teman dari Amerika mewanti-wanti saya, setelah tahu bahwa moderator untuk sesi saya adalah T.T. Nguyen Duc, yang merupakan Regional Director Pearson Learning, yang tinggal di Bangkok.

Teman saya itu seolah menciutkan nyali saya, “She is a very smart lady, so..bring your A game!”, serunya. “Her parents from Vietnam, but she grew up in Thailand. Then she went to university in USA. She only returned like 6-8 months ago, when she accepted Pearson role,” tambahnya lagi.

Namun, dari sejak di bangku SMA, saya senantiasa melatih diri untuk memperlakukan siapapun secara egaliter. Saya sering berbisik kepada diri sendiri, ketika dihadapkan pada situasi berhadapan dengan orang-orang hebat.

“Tenang, Her…peran kita dengan dia memang berbeda. Tapi, statusnya sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa, yaitu sebagai hamba….”. Jadi, apa yang perlu ditakutkan dengan mereka, yang sama-sama berstatus hamba?

Baca halaman selanjutnya: Debu di antara bintang-bintang…