Selain proses pengembangan produk, letak ‘keseruan’ startup adalah saat bekerja bersama orang-orang yang siap menghadapi masa-masa sulit. Maka dari itu, sebaiknya carilah anggota tim yang benar-benar satu visi, begitu menurut pendapat Muhamad Nur Awaludin, Co-Founder dan CEO Kakatu.

Banyak startup dibangun karena dilatarbelakangi adanya masalah, tak terkecuali masalah sang pendirinya sendiri. Hal itu juga yang dialami oleh Muhamad Nur Awaludin alias Mumu, Co-Founder dan CEO Kakatu, startup yang membuat aplikasi parental control untuk menghindarkan anak dari kecanduan games dan pornografi pada gadget.

Mumu mengisahkan, Kakatu mulanya lahir karena kesalahannya di masa lalu. Di acara Hitsss Talks 2016: The Business of Creativity, dalam topik bincang-bincang “Surviving, Thriving, and Growth Hacking a Startup”, yang diselenggarakan oleh Hitsss pada Minggu (3/4/2016) lalu, Mumu bercerita dirinya pernah kecanduan game dan kerap mengakses hal-hal bersifat negatif di internet. “Dulunya saya seorang gamer yang ambisius sekali terhadap game, dan ponsel pintar juga,” ujar Mumu.

Buruknya, kebiasaan Mumu tersebut membuat hubungannya dengan orang tua merenggang. “Bertahun-tahun saya jarang ngobrol dengan orang tua,” ungkap Mumu. “Ngomong dengan orang tua seperti berinteraksi dengan mesin ATM. Kalau saya butuh uang, baru ngomong,” tambahnya.

Baca halaman selanjutnya: hingga akhirnya, Mumu tersadar…